Padam
Sebuah Puisi Karya Kortis Maharani
Rumah yang tak layak disebut tempat singgah
lenteranya tak pernah padam
menyambut yang datang,
menjamu yang singgah,
pun memberi hangat pada riuh deras hujan
lalu meninggalkan bayang
yang tak sempat dipotret mata.
Lucunya,
yang paling melelahkan bukan kehilangan.
Tapi bertahan menjadi terang
walau minyaknya habis perlahan.
Aku belajar
bahwa tidak semua yang hangat itu aman.
Tidak semua yang aman itu nyaman.
Toh api yang dipeluk lama
juga bisa memberi luka
hingga lupa rupa lukanya.
Dan malam ini,
aku tidak ingin menjadi siapa-siapa.
Tidak ingin kuat.
Tidak ingin terus menyala demi tamu yang datang.
Biarkan saja padam sebentar.
Sebab mungkin,
gelap bukan akhir dari cahaya.
Mungkin ia cuma cara semesta
'tuk menunjukkan arti dari pulih.

0 Komentar