6/recent/ticker-posts

Jejak yang Tak Kasat Mata



Jejak yang Tak Kasat Mata
Sebuah Puisi Karya Alin

Goresan di tubuhku telah lama menutup,
Tetapi luka dalam batinku masih terus berdenyut,
Tersembunyi dari pandangan orang-orang di sekitarku,
Kutanggung sendiri beban yang tak pernah pudar.

Nyeri yang bersarang jauh di dalam jiwa,
Perlahan mengikis arah dan pijakanku.
Cemas dan murung berpadu menjadi satu,
Pergulatan sunyi yang tiada nama bagi mereka yang melihatnya.

Waktu terus melaju, sementara aku tertahan,
Terkurung oleh pikiran yang tak bisa kutinggalkan.
Gelombang rasa yang datang silih berganti,
Membuatku merasa lemah dan terkekang tanpa henti.

Namun, kusadari, aku tak berjalan seorang diri.
Dari kesadaran itu, secercah cahaya mulai menyala.
Meski jejak ini mungkin tak pernah benar-benar sirna,
Aku akan mencari keberanian untuk terus melangkah.

Sebab tiap hari adalah medan yang harus kutempuh.
Perlahan, namun pasti, aku belajar untuk tumbuh.
Dan walau jejak ini tersembunyi dari mata dunia,
Akan kubawa ia dengan kepala tegak, tanpa rasa malu.

Posting Komentar

0 Komentar