6/recent/ticker-posts

Rumah yang Retak di Dalam Diri


Rumah yang Retak di Dalam Diri
Sebuah Prosa Puitis Karya Hayyu Zahirah 

Sejak kecil, kasih sayang yang ia kenal sering kali datang bersama kerasnya didikan sang ibu dan sang kakak.
Setiap kali ia melakukan kesalahan, teguran dan amarah menjadi hal yang akrab baginya. 
Lambat laun, semua itu menjadi terbiasa, bahkan hingga ia tumbuh dewasa.

Ayahnya tumbuh tanpa benar-benar mengenal hangatnya kasih sayang orang tua.
Ia tak pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi ia selalu berusaha menyayangi anak-anaknya dengan segala cara yang ia mampu.
Ia hadir, namun perhatian itu tak selalu sempat singgah pada hal-hal kecil yang diam-diam paling mereka butuhkan.
Ketika amarahnya datang, dunia seakan mendadak menjadi sunyi.
Meski begitu, ayah tetap menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar.
Di sisinya, ia menemukan ketenangan yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Didikan ibunya memang keras, mungkin begitulah kehidupan membentuk dirinya; tegas, tetapi penuh harapan agar anak-anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik darinya.
Semua itu ia lakukan demi masa depan mereka, agar mereka tak selalu mengharapkan kemudahan di setiap langkah hidup mereka.
Ia ingin menunjukkan bahwa dunia di luar sana tak selalu ramah.
Ia ingin anak-anaknya belajar menjadi kuat sebelum dunia mengajarkannya dengan cara yang lebih menyakitkan.
Ia lebih sering menunjukkan perhatian melalui hal-hal kecil dibandingkan ayahnya.
Di sepertiga malam, ia bangun untuk menyelipkan nama anak-anaknya dalam setiap doa.
 
Setiap orang tua memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan kasih sayang, meski terkadang cara itu meninggalkan luka yang baru dipahami ketika anaknya beranjak dewasa.

Tanpa disadari, kakaknya mewarisi cara didik sang ibu.
Kerasnya didikan itu kembali ia rasakan melalui sosok kakaknya. 
Bahkan, amarah kakaknya sering kali lebih ia takuti daripada amarah sang ibu.

Ia tahu bahwa begitulah cara keluarganya menunjukkan kasih sayang.
Namun, tanpa mereka sadari, semua yang telah ia lalui perlahan meretakkan rumah di dalam dirinya.
Tempat yang seharusnya menjadi ruang paling nyaman untuk pulang saat lelah, kini hanya menyisakan retakan dan jejak luka.
Sejak saat itu, ia tak lagi menemukan tempat yang benar-benar tenang, bahkan ketika ia sedang menyendiri.

Ia hanya berharap suatu saat nanti ia mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain.
Lebih dari itu, ia berharap kelak anak-anaknya tak perlu tumbuh dengan retakan yang sama. 
Ia ingin mereka mengenal kasih sayang tanpa harus kehilangan rasa aman di dalam dirinya. 
Sebab, setiap anak berhak memiliki rumah yang utuh—tempat paling nyaman untuk pulang, bahkan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja. 
Setiap retakan tak selalu bisa dihapus, tetapi selalu ada harapan untuk kembali membangun rumah yang hampir runtuh.



Posting Komentar

0 Komentar