Setiap pagi, Glenca selalu datang lebih awal ke kampus. Ia menyapa satpam dengan senyum kecil, lalu berjalan menuju kelas sambil membawa segelas kopi yang hampir setiap hari menemaninya. Di mata teman-temannya, Glenca adalah sosok yang menyenangkan. Ia aktif di organisasi, nilainya cukup baik, dan hampir tidak pernah terlihat murung. “Enak ya jadi Glenca, hidupnya kayak nggak ada masalah.” Kalimat itu pernah ia dengar tanpa sengaja. Glenca hanya tersenyum, seolah memang benar begitu. Padahal, setiap malam adalah cerita yang berbeda.
Saat lampu kamar dimatikan dan suasana mulai sunyi, pikirannya justru semakin ramai. Hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari terus berputar di kepalanya. Tugas yang belum selesai, harapan orang tua, rasa takut mengecewakan orang lain, sampai pertanyaan sederhana yang tak pernah bisa ia jawab sendiri. “Kalau suatu hari aku berhenti tersenyum, apa ada yang benar-benar sadar?." Pertanyaan itu sering muncul, tetapi selalu ia simpan sendiri.
Di kampus, ia tetap menjadi Glenca yang dikenal semua orang. Ia tetap membantu teman mengerjakan tugas, tetap tertawa saat bercanda, bahkan sering mengatakan, “Aku nggak apa-apa.” Kalimat itu terlalu sering diucapkan sampai akhirnya ia sendiri hampir mempercayainya. Suatu siang, dosennya menghentikan perkuliahan beberapa menit sebelum kelas selesai. “Hari ini saya tidak memberi tugas,” kata beliau. “Saya hanya ingin kalian menulis satu kalimat tentang apa yang sedang kalian rasakan. Tidak usah menuliskan nama.”
Ruangan yang biasanya ramai mendadak sunyi. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Glenca menatap kertas kosong cukup lama. Tangannya sempat ragu, tetapi akhirnya ia menulis pelan. “Aku lelah terlihat kuat setiap hari.” Kertas itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak bersama puluhan kertas lainnya.
Seminggu kemudian, dosen membuka kelas dengan cara yang tidak biasa. “Banyak dari kalian menulis bahwa sedang lelah. Mulai hari ini, sebelum kita belajar, saya hanya ingin bertanya, apa kabar kalian hari ini?” Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, entah mengapa, Glenca merasa dadanya sesak. Selama ini banyak orang bertanya tentang kabarnya, tetapi hampir semuanya langsung pergi sebelum mendengar jawabannya.
Hari-hari berikutnya tidak langsung menjadi lebih mudah. Glenca masih sering merasa cemas. Masih ada malam ketika ia sulit tidur dan masih ada pagi ketika ia harus mengumpulkan tenaga hanya untuk berangkat ke kampus. Bedanya, ia tidak lagi memendam semuanya sendirian. Ia mulai bercerita kepada sahabatnya. Beberapa waktu kemudian, ia juga datang ke layanan konseling kampus. Tidak ada keajaiban yang membuat semua masalah selesai dalam semalam. Namun, setiap kali pulang dari ruang konseling, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Glenca akhirnya mengerti bahwa menjadi kuat bukan berarti harus memikul semuanya sendirian. Ada saatnya seseorang perlu berhenti sejenak, mengakui bahwa dirinya sedang lelah, lalu menerima uluran tangan yang datang. Kini ia masih tersenyum seperti dulu. Namun, senyumannya bukan lagi karena ingin terlihat baik-baik saja di depan semua orang.

0 Komentar