Namaku Arunika. Ayah yang memberiku nama itu. Beliau pernah bercerita bahwa Arunika berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti cahaya fajar. Saat itu aku hanya mengangguk sambil tersenyum, belum benar-benar memahami makna di baliknya. Baru setelah dewasa, aku menyadari bahwa Ayah menyimpan harapan besar melalui nama yang beliau pilih.
Seminggu sebelum ujian masuk perguruan tinggi, hidupku berubah. Sepulang bekerja, Ayah mengeluh dadanya terasa nyeri. Awalnya beliau mengira itu hanya kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Namun, malam harinya napasnya semakin sesak hingga Ibu panik dan kami segera membawanya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan Ayah mengalami serangan jantung dan harus dirawat di ruang ICU. Selama lima hari, rumah sakit menjadi tempat yang paling sering kudatangi. Aku tetap membawa buku latihan ujian karena merasa harus belajar. Namun, buku itu hanya terbuka di pangkuanku tanpa benar-benar kubaca. Pikiranku selalu tertuju pada pintu ICU. Setiap kali dokter keluar, aku berharap mendengar kabar bahwa kondisi Ayah mulai membaik.
Sayangnya, harapan itu tidak menjadi kenyataan. Pada hari keenam, dokter menyampaikan bahwa Ayah telah meninggal dunia. Saat mendengarnya, aku hanya terdiam. Rasanya seperti kehilangan arah. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa orang yang selalu mendukung setiap langkahku kini telah pergi untuk selamanya.
Setelah pemakaman selesai, rumah terasa begitu sunyi. Tidak ada lagi suara Ayah yang membangunkanku setiap pagi atau mengingatkanku agar tidak lupa sarapan. Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa justru menjadi kenangan yang paling kurindukan.
Rasanya semua yang telah kupersiapkan tidak lagi berarti. Orang yang paling ingin melihatku kuliah sudah tidak ada.
Ibu tidak memaksaku. Beliau hanya menyerahkan dompet milik Ayah. Di dalamnya terdapat foto keluarga dan secarik kertas kecil bertuliskan, “Teruslah belajar. Ayah percaya kamu bisa.”
Aku menggenggam kertas itu cukup lama. Air mataku jatuh tanpa mampu kutahan. Ibu menggenggam tanganku pelan.
“Kalau ingin menangis, menangislah. Ibu juga masih merasa kehilangan. Tapi kita harus pelan-pelan melanjutkan hidup. Ayah pasti ingin melihatmu sampai di bangku kuliah.”
Aku mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Ayah, aku merasa tidak harus menyembunyikan semua kesedihanku.
Keesokan harinya aku tetap mengikuti ujian. Saat mengerjakan soal, pikiranku beberapa kali melayang. Aku harus menarik napas panjang berulang kali agar bisa kembali fokus. Hari itu menjadi ujian terberat dalam hidupku, bukan karena sulitnya soal, melainkan karena aku harus melawan rasa kehilangan yang memenuhi hatiku.
Beberapa minggu kemudian, hasil seleksi diumumkan. Namaku dinyatakan diterima. Aku memeluk Ibu sambil menangis. Kami sama-sama bahagia, tetapi juga sama-sama berharap Ayah masih ada untuk mendengar kabar itu.
Memulai kehidupan sebagai mahasiswi ternyata tidak membuat rasa kehilangan itu hilang. Justru, aku sering merasa kosong. Aku sulit berkonsentrasi saat kuliah. Ketika dosen menjelaskan, pikiranku sering melayang. Aku juga lebih sering memilih diam dan pulang lebih awal daripada berkumpul bersama teman-teman.
Ada malam-malam ketika aku terbangun karena memimpikan Ayah. Ada pula hari-hari ketika aku merasa bersalah karena masih bisa tertawa bersama teman-teman. Seolah-olah, jika aku mulai bahagia, berarti aku mulai melupakan beliau.
Karena itu, aku memilih memendam semua perasaan sendirian. Setiap kali ada yang bertanya, aku selalu menjawab bahwa aku baik-baik saja. Padahal, di dalam hati, aku hanya berusaha bertahan menjalani hari demi hari.
Kalimat sederhana itu membuatku berhenti berpura-pura. Aku menceritakan semuanya—tentang rasa rindu yang tak pernah benar-benar usai, ketakutanku mengecewakan Ayah, dan lelahnya berpura-pura kuat setiap hari.
Temanku terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Kamu tidak sendirian. Kalau suatu hari rasanya terlalu berat, berceritalah. Tidak apa-apa kalau kamu belum benar-benar baik-baik saja. Aku di sini untukmu.”
Sejak saat itu, aku mulai belajar menerima perasaanku sendiri. Aku tidak lagi memaksakan diri untuk selalu tampak kuat. Ketika ingin menangis, aku membiarkan air mata mengalir. Saat merasa lelah, aku berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Aku juga mulai lebih sering berbicara kepada Ibu tentang apa yang kurasakan.
Perlahan aku menyadari bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu terlihat tegar atau memaksakan diri tersenyum di setiap keadaan. Terkadang, kita hanya perlu berhenti sejenak, menerima bahwa hati sedang lelah, lalu memberi waktu kepada diri sendiri untuk pulih. Sebab, di antara rindu yang tak pernah benar-benar pergi, selalu ada harapan yang tumbuh perlahan.
Seperti bianglala yang tidak pernah terburu-buru menghiasi langit, ia menunggu hujan selesai menumpahkan seluruh kisahnya, lalu hadir membawa warna-warna baru. Saat itulah aku mengerti bahwa setelah kehilangan yang begitu dalam, hati selalu memiliki kesempatan untuk kembali menemukan cahaya dengan caranya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menerima kenyataan bahwa kepergian Ayah adalah bagian dari hidup yang tak dapat diubah. Rasa rindu itu masih ada, tetapi tidak lagi menghalangiku untuk terus melangkah. Aku menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk rasa syukur sekaligus cara mewujudkan harapan Ayah yang selalu ingin melihatku menyelesaikan pendidikan.
Setiap kali merasa lelah atau kehilangan semangat, aku selalu mengingat pesan sederhana yang pernah beliau tuliskan: “Teruslah belajar. Ayah percaya kamu bisa.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa aku tidak boleh menyerah. Perlahan, aku kembali menikmati proses belajar, menyelesaikan setiap semester, dan semakin yakin bahwa bangkit bukan berarti melupakan, melainkan belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan.
Empat tahun berlalu begitu cepat. Hari wisuda akhirnya tiba. Aku mengenakan toga dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di antara senyum teman-teman yang didampingi kedua orang tua mereka, aku melihat Ibu berdiri sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat namaku dipanggil, aku melangkah ke depan dengan hati berdebar. Ijazah itu kuterima sambil membayangkan senyum Ayah.
Dalam hati aku berkata, “Ayah, aku sudah sampai di titik yang dulu selalu Ayah impikan. Terima kasih karena telah menjadi alasan terbesarku untuk terus melangkah.”
Aku tahu Ayah tidak lagi berada di sampingku. Namun, kasih sayang, doa, dan harapan yang pernah beliau titipkan tidak pernah benar-benar pergi.
Hari itu aku akhirnya memahami arti namaku. Fajar tidak menghapus gelapnya malam. Ia hanya mengajarkan bahwa setelah kehilangan yang begitu dalam, selalu ada harapan untuk kembali melangkah dan menemukan cahaya.

0 Komentar