"Selamat pagi, teman-teman. Perkenalkan, saya Aira. Hari ini saya akan menemani perjalanan kita. Semoga perjalanan ini menyenangkan dan mengesankan."
Suara Aira terdengar penuh semangat dengan senyumnya yang lebar, langkahnya ringan, dan candanya berhasil membuat rombongan wisatawan tertawa. Tidak ada yang menyangka bahwa wanita berusia dua puluh enam tahun itu telah mengulang kalimat pembuka yang sama hampir setiap hari selama empat tahun terakhir.
Baginya, menjadi pemandu wisata bukan sekadar menunjukkan arah, tetapi juga menjadi sosok penyemangat, penolong, fotografer dadakan, hingga tempat bertanya tentang apa saja. Semua orang datang untuk menikmati perjalanan, sedangkan Aira bertugas memastikan tidak ada satu pun yang pulang dengan rasa kecewa. Ini bukan hal yang mudah, tapi tetap harus dijalankan sebaik mungkin.
Hari itu rombongan menuju sebuah kawasan perbukitan untuk berfoto dan menikmati pemandangan yang syahdu. Kabut tipis menyelimuti jalan setapak, sementara udara dingin membuat beberapa wisatawan merapatkan jaket.
Sejak pagi hingga sore, namanya dipanggil berkali-kali. Ketika satu masalah selesai, masalah lain datang. Ponselnya juga tak pernah benar-benar diam. Ada agen perjalanan yang menghubunginya untuk memastikan jadwal berikutnya dan ada sopir yang menanyakan rute.
Sementara di tengah kesibukan dan kebisingan itu, satu notifikasi datang dari orang tersayang. Ibu Aira mengirim pesan: 'Kalau sudah selesai kerja, jangan lupa makan ya, nak.' Aira tersenyum setelah membaca pesan itu dan menyempatkan diri untuk membalasnya.
Malam harinya, setelah seluruh wisatawan kembali ke hotel, Aira duduk sendirian di balkon penginapan. Dari kejauhan, lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Ia mematikan ponselnya untuk beberapa saat.
"Aneh," gumamnya pelan. "Padahal seharian dikelilingi banyak orang, tapi kenapa rasanya tetap sendirian ya?" Itulah isi pikiran Aira.
Sudah beberapa bulan terakhir Aira merasa lelah. Bukan lelah karena berjalan kaki atau mendaki bukit, melainkan lelah karena harus selalu terlihat ceria. Ada hari-hari ketika ia ingin diam, tetapi pekerjaannya menuntutnya untuk terus berbicara. Ada saat ia ingin menangis, tetapi yang keluar justru tawa agar suasana perjalanan tetap menyenangkan.
Keesokan harinya, rombongan mengunjungi sebuah air terjun. Seperti biasa, Aira menjelaskan sejarah tempat itu dengan penuh semangat.
"Tinggi air terjun ini sekitar enam puluh meter. Menurut cerita warga setempat..." Belum selesai Aira menjelaskan, tiba-tiba seorang anak kecil menarik ujung jaketnya.
Pertanyaan polos itu membuat Aira terdiam. Selama ini tidak ada yang benar-benar memperhatikan dirinya. Semua orang mengenalnya sebagai pemandu wisata yang selalu ceria.
Anak kecil itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebutir permen dari saku jaketnya.
"Kalau aku capek, Mama kasih permen. Ini buat Kakak."
Aira menerima permen itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kalau capek, istirahat dulu. Kata Mama, semua orang boleh istirahat."
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Aira sepanjang perjalanan pulang.
Seminggu kemudian, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aira memberanikan diri berbicara kepada atasannya.
"Saya kira kamu memang butuh itu. Selama ini kamu terlalu sering mengambil jadwal tambahan. Liburlah, Aira. Saya izinkan."
Aira tersenyum lebar saat mendengar jawaban atasannya.
Dua hari libur itu tidak diisi dengan bepergian ke tempat wisata lain. Aira justru pulang ke rumah, membantu ibunya memasak, dan membaca buku yang sudah lama tertunda. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia begitu sibuk mengantarkan orang lain menemukan keindahan tempat-tempat baru, sampai lupa memberi dirinya kesempatan untuk menikmati hidup.
Dua hari setelah liburan, Aira kembali memandu rombongan wisata.
"Selamat datang semua. Saya Aira, dan hari ini saya akan menemani perjalanan kita." Kalimat itu masih sama. Senyumnya juga masih hangat.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Ia tidak lagi memaksakan dirinya untuk selalu sempurna. Ketika merasa lelah, ia beristirahat. Ketika pikirannya penuh, ia memberi ruang untuk menenangkan diri. Ia belajar bahwa menjadi pemandu bagi orang lain tidak berarti harus terus mengabaikan arah hidupnya sendiri.
Di penghujung perjalanan, rombongan berhenti di sebuah gardu pandang. Kabut perlahan turun, menutupi perbukitan yang tadi terlihat jelas.
"Karena kadang kita tidak sedang mencari pemandangan yang indah. Kita hanya sedang mencari tempat agar suara-suara di kepala bisa pelan sejenak." Lalu wisatawan itu mengangguk pelan.
Di hadapan pegunungan yang diselimuti kabut, Aira akhirnya mengerti bahwa dunia memang tidak akan pernah benar-benar sunyi. Akan selalu ada suara kendaraan, notifikasi, tuntutan pekerjaan, dan harapan banyak orang. Namun, di sela-sela semua kebisingan itu, setiap orang berhak menemukan jeda untuk mendengarkan dirinya sendiri.
Sebab, terkadang perjalanan yang paling jauh bukanlah menuju puncak gunung atau air terjun yang tersembunyi, melainkan perjalanan untuk kembali pulang kepada diri sendiri dengan penuh ketenangan.

0 Komentar