Lubang yang Tidak Harus Ditutup
Sebuah Cerpen Karya Aulia Fajar Intan
Sejak kecil, Afisa percaya bahwa setiap anak memiliki rumah untuk pulang.
Rumah yang dipenuhi suara ibu memanggil dari dapur. Rumah yang menyimpan pelukan hangat ketika dunia terasa terlalu besar untuk dihadapi sendirian.
Namun keyakinan itu perlahan runtuh bahkan sebelum ia cukup besar untuk memahami arti sebuah keluarga.
Saat anak-anak lain berlari menyambut ayah dan ibu sepulang sekolah, Afisa pulang ke rumah nenek dan kakeknya. Ia tumbuh bersama pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di langit-langit kamarnya seperti sarang laba-laba yang tak pernah dibersihkan.
"Bapak ke mana?"
"Kapan ibu pulang?"
"Kenapa ibu dikurung?"
Tidak ada jawaban yang benar-benar mampu dipahami oleh seorang anak kecil.
Yang ia tahu, ibunya tinggal di balik dinding-dinding dengan pengamanan ketat. Kadang saat berkunjung, ibunya berbicara kepada tembok. Kadang tertawa sendiri. Kadang menangis tanpa sebab yang dimengerti Afisa.
Sementara ayahnya telah lama pergi bersama keluarga yang baru.
Malam hari menjadi waktu yang paling sepi.
Di saat anak-anak lain tidur setelah mendengar dongeng dari orang tuanya, Afisa sering menangis diam-diam di sudut kamar. Air matanya jatuh tanpa suara, seolah takut menambah beban nenek dan kakeknya yang telah bersusah payah membesarkannya.
Satu-satunya makhluk yang selalu menunggunya pulang hanyalah seekor kucing belang yang sering tidur di teras rumah.
Kucing itu tidak pernah bertanya mengapa matanya sembab.
Tidak pernah bertanya mengapa ia lebih sering diam daripada berbicara.
Ia hanya duduk di samping Afisa, seolah mengerti bahwa beberapa kesedihan memang tidak membutuhkan jawaban.
Ketika mulai bersekolah, Afisa perlahan menyadari bahwa keluarganya berbeda.
Pada siang hari, beberapa anak berdiri mengelilinginya.
"Jangan main sama dia."
"Kenapa?"
"Nanti jadi gila seperti ibunya."
Tawa mereka meledak bersamaan.
Afisa tidak menangis di hadapan mereka.
Ia hanya menunduk dan berjalan pulang dengan tas yang terasa lebih berat daripada biasanya.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasa malu terhadap sesuatu yang bahkan tidak pernah ia pilih.
Malamnya, sambil memeluk lutut di atas tempat tidur, ia menatap langit-langit kamar.
"Ya Allah, kenapa keluargaku berbeda?"
Tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian yang memeluknya lebih erat daripada siapa pun.
Sejak saat itu, Afisa tumbuh menjadi anak yang pandai menyembunyikan perasaannya.
Ia tidak pernah benar-benar bercerita kepada siapa pun.
Baginya, nenek dan kakeknya sudah terlalu banyak berkorban. Mereka membesarkannya, merawatnya, dan membiayainya hingga dewasa. Ia tidak ingin menambah beban mereka dengan luka yang tidak terlihat.
Maka semua perasaan itu ia kubur dalam diam.
Kerinduan.
Kemarahan.
Ketakutan.
Kesepian.
Namun luka yang dikubur tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tumbuh diam-diam di tempat gelap.
Ketika memasuki bangku kuliah, Afisa terlihat baik-baik saja dari luar.
Ia tersenyum.
Ia bergaul.
Ia belajar seperti mahasiswa lainnya.
Namun, setiap kali harus bertemu banyak orang, dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar. Setelah kegiatan selesai, ia sering mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Tangisan yang dulu menemani masa kecilnya masih setia datang setiap malam.
Di saat orang lain melihatnya sebagai perempuan yang kuat, Afisa merasa sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Ia juga mulai menyadari sesuatu yang menakutkan.
Beberapa sifat ibunya seolah muncul dalam dirinya.
Ledakan emosi.
Kecemasan yang sulit dijelaskan.
Pikiran yang terus berputar tanpa henti.
Ketakutan itu membuatnya diam-diam mencari bantuan profesional.
Hari ketika ia menemui psikolog menjadi salah satu hari paling berani dalam hidupnya.
Ditemani tiga sahabat yang selalu berjalan di sisinya, Afisa duduk di ruangan itu dengan tangan dingin dan suara bergetar.
Untuk pertama kalinya, ia menceritakan semuanya.
Tentang ibu.
Tentang ayah.
Tentang perundungan.
Tentang rasa takut ditinggalkan.
Tentang malam-malam panjang yang dipenuhi tangisan.
Psikolog itu mendengarkan tanpa menyela.
Lalu berkata pelan,
"Kamu adalah cahaya bagi ibumu."
Kalimat sederhana itu menembus dinding yang selama bertahun-tahun ia bangun di sekeliling hatinya.
Sejak saat itu, Afisa mulai memandang hidupnya dari sudut yang berbeda.
Ia memilih mendalami psikologi.
Bukan karena ingin menjadi ahli.
Melainkan karena ingin memahami dirinya sendiri.
Di antara buku-buku yang ia baca, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam lama.
Pengalaman masa kecil ternyata tidak hanya menjadi kenangan. Ia membentuk cara seseorang melihat dirinya, melihat orang lain, bahkan melihat dunia.
Afisa akhirnya memahami mengapa ia selalu takut kehilangan.
Mengapa ia begitu haus akan penerimaan.
Mengapa perpisahan sekecil apa pun terasa seperti kiamat kecil dalam hidupnya.
Ada bagian dari dirinya yang sejak kecil terus mencari rumah yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Namun ia juga belajar bahwa masa kecil bukanlah hukuman seumur hidup.
Luka dapat membentuk seseorang, tetapi tidak harus menentukan masa depannya.
Kesadaran itu membuat langkahnya berubah.
Ia mulai terjun dalam kegiatan kesehatan mental.
Mendampingi orang dengan gangguan jiwa.
Menjadi pendengar bagi teman-teman yang membutuhkan tempat bercerita.
Memberikan psikoedukasi di sekolah tentang kesehatan mental dan bahaya perundungan.
Suatu hari, saat menjadi pemateri, ia mendengar seorang siswa mengucapkan kalimat yang pernah menghantuinya bertahun-tahun lalu.
Dadanya kembali sesak.
Tangannya dingin.
Luka lama mengetuk pintu yang ia kira telah tertutup.
Namun kali ini Afisa tidak lari.
Karena ia tahu, di antara siswa-siswa itu mungkin ada seseorang yang sedang merasakan hal yang pernah ia rasakan dahulu.
Puncak perjalanan itu datang ketika ia kembali menemui ibunya.
Hari itu kondisi ibunya sedang memburuk.
Perempuan yang selama bertahun-tahun ia rindukan sekaligus ia salahkan itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Makian demi makian meluncur tanpa arah.
Kata-kata tajam menghantam Afisa seperti hujan batu.
Belasan tahun kemarahan yang selama ini ia simpan mendadak memenuhi dadanya.
Ia ingin berteriak.
Ingin menyalahkan seseorang.
Ingin bertanya mengapa hidupnya harus seperti ini.
Namun, ketika menatap mata ibunya, ia melihat sesuatu yang belum pernah benar-benar ia lihat sebelumnya.
Ketakutan.
Kebingungan.
Kesedihan.
Ia tidak lagi melihat seorang ibu yang gagal menjalankan perannya.
Ia melihat seorang manusia yang sedang berjuang melawan pikirannya sendiri.
Air mata Afisa jatuh perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena marah.
Melainkan karena memahami.
Beberapa hari kemudian, ketika kondisi ibunya membaik, perempuan itu bertanya pelan,
"Afisa mana?"
Di tengah ingatan yang mulai memudar, namanya masih tersimpan di sana.
Saat itulah Afisa menyadari bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna.
Dan mungkin, selama ini ibunya juga sedang berusaha mencintainya dengan cara yang ia mampu.
Kini, Afisa memahami bahwa luka dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ibunya terluka.
Luka itu tanpa sengaja ikut membentuk dirinya.
Namun rantai itu tidak harus terus berlanjut.
Ia mungkin mewarisi kerentanan, kecemasan, dan ketakutan yang sama. Ia memahami bahwa beberapa gangguan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Kesadaran itu pernah membuatnya takut.
Tetapi ia tidak ingin
hidupnya ditentukan oleh ketakutan tersebut.
Ia ingin memutus rantai luka itu.
Ia ingin anak-anaknya kelak tumbuh tanpa harus mempertanyakan apakah mereka layak dicintai.
Pada akhirnya, Afisa mengerti bahwa kesehatan mental bukan tentang menjadi seseorang yang tidak pernah terluka.
Kesehatan mental adalah keberanian untuk mengenali luka, meminta bantuan ketika diperlukan, dan tetap melangkah meskipun luka itu belum sepenuhnya hilang.
Selama ini ia mencari kasih sayang orang tua untuk mengisi kekosongan dalam dirinya.
Sampai suatu hari ia sadar bahwa lubang itu tidak harus ditutup.
Ia hanya perlu belajar hidup bersamanya.
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, setelah bertahun-tahun tersesat dalam pencarian yang panjang, Afisa merasa telah menemukan jalan pulang.

0 Komentar