6/recent/ticker-posts

Layar yang Tidak Pernah Tidur


Layar yang Tidak Pernah Tidur
Sebuah Cerpen Karya Nizar

Malam itu lampu kamar Raka belum padam. Jemarinya sibuk mengetik di layar ponsel sementara buku pelajaran tergeletak di samping bantal.

“Besok dikumpulkan, kan? Tenang, tinggal cari di internet,” gumamnya.

Raka termasuk siswa yang akrab dengan teknologi. Hampir semua hal ada di ponselnya: catatan, musik, permainan, bahkan jawaban tugas. Awalnya ia merasa teknologi membuat hidup lebih mudah. Namun tanpa sadar, ia mulai bergantung.

Di sekolah, guru bahasa Indonesia memberi tugas membuat karya tulis tentang perubahan sosial akibat teknologi. Teman-temannya berdiskusi, tetapi Raka memilih diam. Dalam pikirannya hanya ada satu cara cepat: salin informasi, rapikan sedikit, selesai.

Sepulang sekolah, listrik di daerahnya tiba-tiba padam. Internet hilang. Ponselnya hanya tersisa sedikit baterai.

Raka panik.

Ia membuka buku yang lama tidak disentuh. Halamannya masih rapi, seolah menunggu dibaca. Dengan malas ia mulai membaca dan menulis sendiri.

Awalnya sulit. Kalimat terasa berantakan. Berkali-kali ia menghapus tulisan. Tetapi setelah beberapa waktu, ia menemukan sesuatu yang jarang ia rasakan: pikirannya bekerja lebih dalam.

Ia teringat cerita ayahnya tentang masa sekolah tanpa internet. Mereka mencari bahan di perpustakaan dan berdiskusi langsung dengan teman. Dulu Raka menganggap itu kuno, tetapi malam itu ia mulai memahami.

Keesokan harinya listrik kembali menyala. Internet sudah bisa dipakai, tetapi tugasnya hampir selesai ditulis dengan tangannya sendiri. Saat presentasi di kelas, beberapa siswa membaca hasil yang terdengar mirip satu sama lain. Ketika gilirannya tiba, Raka menjelaskan dengan sederhana tentang bagaimana teknologi membantu manusia, tetapi juga bisa membuat manusia malas berpikir bila digunakan tanpa batas.

Guru tersenyum.

“Ini tulisan yang jujur,” katanya.

Sepulang sekolah, Raka tetap menggunakan ponsel seperti biasa. Ia tidak membencinya. Ia hanya mulai belajar memberi jarak. Baginya, teknologi bukan musuh dan bukan pula pengganti akal. Ia hanyalah alat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, layar ponselnya mati lebih cepat daripada pikirannya.

Posting Komentar

0 Komentar