6/recent/ticker-posts

Riuh yang Tinggal di Kepala




Riuh yang Tinggal di Kepala
Sebuah Cerpen Karya Hanindya Karinina

Orang-orang mengenalku sebagai seseorang yang tidak pernah kehabisan tenaga. Aku tertawa paling keras ketika rapat organisasi mulai membosankan, menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan saat panitia kekurangan anggota, dan menjawab pertanyaan dosen dengan suara yang terdengar yakin meski kepalaku sering kali kosong. Di kampus, aku mempunyai banyak teman. Kata mereka, aku mudah diajak bicara, menyenangkan, dan ceria. Aku sempat percaya itu pujian. Sampai suatu hari aku sadar, barangkali mereka hanya mengenal versi diriku yang paling pandai berbohong.

Pagi itu lorong fakultas dipenuhi langkah kaki dan suara percakapan yang saling bertabrakan. Bunyi notifikasi ponsel, derit kursi yang digeser, serta tawa beberapa mahasiswa bercampur menjadi keramaian yang membuat kepalaku terasa penuh. Aku segera memasang TWS sebelum suara-suara itu berubah menjadi sesuatu yang sulit kutahan. Musik pelan mengalun memenuhi telingaku.

“Sekar!” Seseorang menepuk pundakku dari belakang hingga tubuhku refleks menegang. Aku menoleh cepat. Sera, teman satu divisi organisasiku tertawa kecil melihat ekspresiku.

“Kaget banget, sih.”
Aku ikut tertawa, meski jemariku terasa dingin. 
“Lagi ngelamun aja,” jawabku singkat.

Kami berjalan menuju ruang rapat bersama. Sepanjang jalan, Sera terus bercerita tentang proposal kegiatan yang harus segera direvisi, tentang ketua panitia yang mulai stres, juga tentang seorang anggota baru yang katanya terlalu sensitif untuk diajak kerja cepat. Aku mengangguk sesekali. Tidak benar-benar mendengarkan. Tatapanku samar sejak tadi pagi karena aku sengaja tidak memakai kacamata. Dunia yang buram terasa lebih aman dibanding melihat semuanya terlalu jelas. Wajah orang-orang berubah menjadi siluet lembut tanpa ekspresi yang harus kutebak satu per satu. Lampu-lampu terasa tidak terlalu menusuk. Keramaian tampak lebih jauh. Kabur membuatku bernapas sedikit lebih lega.

“Kar, kamu gapapa?” tanya Sena tiba-tiba.
“Hm?”
“Kamu keliatan capek.”
“Aman, kurang tidur aja.” Kalimat paling aman yang bisa digunakan seseorang tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Ruang rapat mulai penuh ketika kami tiba. Aroma kopi instan bercampur pendingin ruangan memenuhi udara. Beberapa orang sibuk bercanda, sebagian lagi sibuk mengetik di laptop masing-masing. Aku duduk di pojok ruangan sambil memainkan volume musik di ponselku, memastikan suara dunia tidak terdengar terlalu jelas.

Rapat dimulai seperti biasa. Aku masih bisa tertawa pada beberapa lelucon. Masih bisa menyampaikan pendapat ketika diminta. Masih bisa terlihat seperti Sekar yang mereka kenal. Sampai suara bentakan itu terdengar.

“YA JANGAN GITU CARANYA!”

Seseorang meninggikan suara di ujung ruangan karena masalah teknis yang sebenarnya sepele. Namun tubuhku langsung menegang seketika, seolah ada sesuatu dalam diriku yang pecah bersamaan dengan suara itu. Aku menunduk cepat sebelum ada yang menyadari jemariku mulai gemetar. Tidak apa-apa. Itu hanya suara. Aku menggigit bagian dalam pipiku pelan, mencoba menarik diriku kembali ke ruangan itu. Musik di telingaku tiba-tiba terasa terlalu kecil. Kepalaku dipenuhi dengingan samar yang semakin lama semakin keras.

“Sekar?”
Suara itu membuatku tersadar. Sera berdiri di samping kursiku sambil membawa beberapa lembar kertas. Entah sejak kapan ia memperhatikanku.

“Kamu pucat.”
Aku buru-buru membenarkan posisi duduk dan tersenyum kecil.

“Aman kok.”
Jawaban yang terlalu sering kupakai sampai terdengar seperti hafalan.

Sera tidak langsung membalas. Tatapannya singgah beberapa detik lebih lama dari orang lain biasanya memandangku. Seolah ia sedang mencoba membaca sesuatu yang sengaja kusamarkan. Namun untungnya, ia tidak bertanya lebih jauh.

“Kalau pusing bilang, ya,” ucapnya pelan sebelum kembali ke tempat duduknya. Aku mengangguk pelan. Dan untuk alasan yang tidak kumengerti, kalimat sederhana itu justru membuat dadaku terasa semakin sesak.

Rapat selesai menjelang sore. Orang-orang keluar sambil masih bercanda dan membicarakan rencana makan malam bersama. Aku menolak ajakan mereka dengan alasan ada tugas yang belum selesai. Padahal sebenarnya aku hanya ingin sendirian.

Langit mulai gelap ketika aku duduk di halte dekat kampus dengan musik yang masih mengalun di telinga. Kendaraan berlalu-lalang di depanku seperti bayangan samar karena mataku yang tidak dibantu lensa apa pun. Aku memeluk tas di pangkuan sambil menunduk. Lelah. Akhir-akhir ini aku selalu lelah. Bukan karena organisasi, bukan juga karena kuliah. Melainkan karena setiap hari aku harus memastikan tidak ada seorang pun yang menyadari retakan dalam diriku. Ponselku bergetar pelan, pesan dari ibu muncul di layar.

"Jangan lupa makan. Jangan begadang terus."
Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas singkat.
Iya, Bu. 
Sesederhana itu.

Ibu tidak pernah tahu bahwa akhir-akhir ini tidur menjadi satu-satunya tempat yang membuatku bisa menghilang sementara dari kepalaku sendiri. Bahwa ada hari-hari ketika aku tidur lebih dari sepuluh jam dan tetap bangun dalam keadaan lelah. Bahwa ada suara-suara tertentu yang mampu membuat tubuhku gemetar tanpa alasan yang bisa kujelaskan. Dan mungkin memang lebih baik begitu. Karena bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya tanpa terdengar rusak.

Angin sore berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambutku. Musik di telingaku masih mengalun lirih, menenggelamkan dunia sedikit demi sedikit. Aku menatap pantulan samar diriku di kaca halte. Retak. Namun masih berdiri seolah baik-baik saja.

Sejak beberapa bulan terakhir, aku mulai membenci suara. Bukan suara musik, bukan suara hujan, bukan suara langkah kaki kecil di pagi hari. Aku masih menyukai hal-hal itu. Yang kubenci adalah suara-suara yang datang tiba-tiba, bentakan, benda pecah, nada bicara yang meninggi, dan dentuman pintu yang ditutup terlalu keras. Suara-suara yang mampu membuat tubuhku membeku sebelum pikiranku sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tubuhku selalu mengingat sesuatu yang berusaha kulupakan. Dan sialnya, ingatan tidak pernah benar-benar mati.

Hari itu hujan turun cukup deras sejak siang. Langit kampus tampak kelabu, sementara lorong-lorong dipenuhi aroma tanah basah dan pakaian lembap. Aku duduk di perpustakaan sambil menatap laptop yang sejak satu jam lalu hanya menampilkan halaman kosong. Deadline tugas tinggal dua hari, aku tahu itu. Namun kepalaku terlalu penuh untuk mulai mengetik satu kalimat pun. Musik mengalun pelan dari TWS-ku. Jemariku mengetuk meja kecil mengikuti irama lagu, mencoba menjaga pikiranku tetap tenang. Di sekelilingku, orang-orang sibuk dengan dunianya masing-masing, membaca, berdiskusi, dan tertawa kecil. Normal sekali. Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa hidup tanpa merasa takut pada hal-hal yang bahkan tidak terlihat berbahaya.

“Sekar?”
Aku mendongak. Sera berdiri di samping meja sambil membawa dua gelas kopi dari vending machine lantai bawah. Tatapannya langsung berubah ketika melihat wajahku.

“Kamu pucat, katanya pelan.
Aku memaksakan senyum kecil.
“Kurang tidur sepertinya.”
“Sekar.”
Nada suara Sera kali ini berbeda. Tidak memaksa, tetapi cukup lembut untuk membuat dadaku terasa aneh. Aku menatap layar laptopku lagi agar tidak perlu melihat matanya terlalu lama.

“Kurang tidur aja, Ra.”
Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan. Dan mungkin itu adalah hal paling jujur yang berhasil kukatakan akhir-akhir ini. Sera tidak langsung menjawab.

Di luar perpustakaan, hujan semakin deras. Orang-orang berlarian kecil melewati jendela sambil menutupi kepala dengan tas atau map. Suasana menjadi ramai oleh suara langkah dan tawa yang saling bersahutan. Aku justru merasa semakin tenggelam.

“Kalau capek, istirahat,” ucap Sera akhirnya.
Aku tertawa kecil pelan.
Istirahat.

Lucu sekali mendengar kata itu. Karena bahkan saat tidur belasan jam pun, kepalaku tidak pernah benar-benar diam. Malam hari sering terasa lebih buruk. Dunia mungkin terlihat tenang bagi orang lain, tetapi tidak untukku. Saat semua orang terlelap, pikiranku justru menjadi tempat paling bising di muka bumi. Hal-hal kecil yang kulupakan di siang hari datang kembali saat malam: suara, ingatan, ketakutan, kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Overthinking, kata orang-orang. Padahal rasanya lebih seperti tenggelam perlahan tanpa tahu cara berenang kembali ke permukaan.

Aku mulai sering mematikan lampu kamar lebih awal dan tidur lebih lama dari biasanya. Kadang sebelas jam. Kadang lebih. Bukan karena benar-benar ingin beristirahat, melainkan karena aku tidak ingin sadar terlalu lama. Tidur membuatku tidak perlu berpura-pura. Setidaknya untuk sementara. Namun bahkan tidur pun tidak selalu baik. Ada malam-malam ketika aku terbangun dengan napas memburu dan tubuh penuh keringat hanya karena mimpi buruk yang terasa terlalu nyata. Ada suara-suara tertentu yang masih tertinggal bahkan setelah aku membuka mata.

Ponselku bergetar pelan di atas meja. Notifikasi pengingat obat muncul di layar. Aku menatapnya cukup lama sebelum akhirnya membuka laci paling bawah meja belajar. Di sana, di balik beberapa buku dan kabel charger yang kusut, terdapat botol kecil berisi obat-obatan yang selalu kusimpan jauh dari pandangan siapa pun. Tanganku bergerak pelan mengambil satu butir.

SSRI.
Nama yang bahkan tidak pernah berani kuucapkan keras-keras di rumah. Aku mengunyah cepat bersama air mineral, lalu buru-buru menyimpan botol itu kembali seperti seseorang yang sedang menyembunyikan rahasia besar. Padahal memang itu kenyataannya. Kesehatanku adalah rahasia yang paling mati-matian kujaga.

Karena aku terlalu takut mendengar orang berkata:
“Kamu kurang bersyukur.”
atau:
“Ah, paling cuma stres biasa.”

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, kepalaku sendiri atau kemungkinan bahwa orang-orang akan menjauh jika mengetahui isi di dalamnya.

Keesokan harinya aku kembali ke kampus seperti biasa. Memasang senyum yang sama, memakai TWS yang sama, menjadi Sekar yang sama. Dan seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar sadar bahwa aku sedang berusaha keras agar diriku tidak runtuh di depan mereka.

Sera bukan tipe orang yang mudah menjadi pusat perhatian. Ia tidak secerah orang-orang yang selalu memenuhi ruangan dengan suara tawa, tidak pula seaktif mereka yang sibuk berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain. Namun anehnya, keberadaan Sera justru lebih mudah kurasakan dibanding siapa pun. Mungkin karena ia tidak banyak bertanya, atau mungkin karena ia tidak pernah memaksaku terlihat baik-baik saja.

Aku mulai menyadari keberadaannya dalam hal-hal kecil. Ia selalu duduk di sampingku saat rapat tanpa mengatakan alasan. Kadang membawakan minuman dingin ketika aku terlihat terlalu diam. Kadang mengirim pesan singkat hanya untuk bertanya apakah aku sudah makan, lalu tidak melanjutkan percakapan ketika aku menjawab seadanya.

Sera tidak pernah memaksa masuk ke hidup orang lain. Ia hanya mengetuk pelan, lalu menunggu pintunya dibukakan. Dan aku benci mengakui bahwa sebagian kecil diriku mulai ingin membuka pintu itu.

Hari itu kampus jauh lebih ramai dari biasanya karena persiapan acara fakultas. Spanduk-spanduk mulai dipasang di beberapa sudut gedung, suara latihan penampilan terdengar dari aula, sementara lorong organisasi dipenuhi orang yang mondar-mandir membawa properti.

Aku duduk di lantai sekretariat sambil memotong beberapa lembar kertas dekorasi. TWS masih terpasang di telingaku, meski musiknya tidak benar-benar kudengar. Kepalaku terasa penuh sejak pagi karena semalam aku nyaris tidak tidur sama sekali.

Di luar ruangan, suara orang-orang masih terdengar riuh. Seseorang tertawa terlalu keras. Ada bunyi kursi diseret. Pintu aula ditutup dengan dentuman yang membuat tubuhku refleks menegang kecil.

Sera menoleh cepat ke arahku. Aku buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk membuka bungkus sendok plastik.
“Aku bikin kaget, ya?”
Aku menggeleng cepat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu, sangat pelan, Sera berkata, “Kamu akhir-akhir ini sering kelihatan kagetan.”

Tanganku berhenti bergerak. Kalimat itu jatuh begitu saja di antara kami, tenang tetapi menghantam lebih keras dari yang kuduga. Aku tidak langsung menjawab. Karena untuk sesaat, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Selama ini orang-orang hanya melihatku lelah, sibuk, atau terlalu banyak kegiatan. Tidak ada yang benar-benar menyadari bagaimana aku menahan napas setiap kali mendengar suara keras. Tidak ada yang melihat bagaimana jemariku gemetar kecil saat kepalaku mulai dipenuhi hal-hal buruk. Namun Sera melihatnya dan itu menakutkan.

“Aku? Aman aja kok,” jawabku akhirnya pelan.

Sera tidak membantah. Ia hanya menatapku beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya ke luar jendela sekretariat yang mulai diguyur hujan sore.

“Kamu tahu?” katanya pelan. “Kadang orang yang paling keliatan kuat justru paling capek.” Dadaku terasa sesak mendengar itu. Aku tertawa kecil untuk menyembunyikannya.
“Sok puitis banget sih.”
“Belajar dari kamu.”

Aku kembali tertawa, kali ini lebih kecil. Entah sejak kapan Sera mulai mengenalku sedetail itu. Mungkin dari caraku selalu menghindari keramaian setelah rapat selesai. Mungkin dari kebiasaanku memakai musik terlalu keras. Mungkin dari tatapanku yang sering kosong meski sedang dikelilingi banyak orang. Atau mungkin karena diam-diam, Sera memang memperhatikanku lebih lama dibanding yang lain.

Hari mulai gelap ketika sekretariat akhirnya sepi. Sebagian anggota panitia pulang lebih dulu, menyisakan beberapa orang yang masih sibuk membereskan barang. Aku membantu mengangkat kotak dekorasi ke sudut ruangan sebelum tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar nyaring dari luar.

PRANG!

Tubuhku membeku, napas langsung tercekat. Suara itu terlalu keras, terlalu dekat, terlalu familiar. Kepalaku mendadak dipenuhi dengingan panjang yang membuat semuanya terdengar jauh. Jemariku mulai dingin. Pandanganku kabur meski sejak tadi memang tidak memakai kacamata.

“Sekar?”

Suara Sera terdengar samar. Aku buru-buru keluar dari sekretariat sebelum siapa pun sempat melihat wajahku lebih jelas. Langkahku terlalu cepat, nyaris berlari melewati lorong kampus yang mulai kosong karena hujan. Aku berhenti di dekat tangga belakang gedung. Aku menunduk sambil mencengkeram lengan sendiri kuat-kuat, mencoba mengingat bahwa aku ada di kampus, bukan di tempat itu. Bahwa semuanya sudah lewat. Bahwa suara itu hanya kaca jatuh biasa. Namun tubuhku tidak pernah mau percaya semudah itu.

Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Aku tahu itu Sera bahkan sebelum ia memanggil namaku.

“Sekar.”

Suaranya pelan sekali. Tidak memaksa, tidak panik. Aku memejamkan mata rapat-rapat karena tiba-tiba merasa sangat malu. Malu karena hampir runtuh hanya karena suara pecahan kaca. Malu karena ternyata aku selemah ini.

“Aman aja, Ra,” bisikku lirih.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Sera terdengar seperti tidak mempercayaiku sama sekali.

“Kamu nggak harus selalu bilang aman, Kar.”

Setelah hari itu, ada sesuatu yang berubah di antara aku dan Sera. Bukan perubahan besar yang bisa dilihat orang lain. Kami masih berbicara seperti biasa, masih bertemu di sekretariat, masih saling mengirim pesan tentang tugas atau rapat mendadak. Namun diam-diam, aku mulai merasa Sera melihatku terlalu jelas. Dan itu membuatku takut.

Manusia sepertiku terbiasa hidup di balik lapisan-lapisan tipis yang sengaja dibuat aman. Senyum yang tepat. Jawaban singkat yang terdengar normal. Tawa kecil agar orang lain percaya semuanya baik-baik saja. Jika seseorang mulai melihat lebih dalam, aku tidak tahu harus lari ke mana lagi.

Malam itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Televisi menyala terlalu keras di ruang tengah sementara ibu sibuk melipat pakaian dan ayah membicarakan sesuatu tentang pekerjaan. Aku duduk di meja makan sambil mengaduk teh yang mulai dingin sejak tadi.

“Akhir-akhir ini kamu sering murung,” kata ibu tiba-tiba.
Aku mendongak pelan.
“Capek aja, Bu.”
“Jangan terlalu dipikirin kuliahnya,” sahut ayah tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. “Kamu itu harusnya bersyukur. Banyak orang pengen ada di posisi kamu.”
Aku tersenyum kecil.
Lagi-lagi kalimat itu. Bersyukur. Seolah rasa takut di kepalaku akan hilang hanya karena aku memiliki hidup yang terlihat baik.

Dan seperti biasa, percakapan berhenti sampai di sana. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa setiap malam aku tidur dengan kepala yang terasa seperti medan perang kecil. Bahwa ada suara-suara tertentu yang masih mampu membuat tubuhku gemetar tanpa alasan yang bisa kupahami sendiri. Bahwa akhir-akhir ini aku semakin sering berharap bisa menghilang barang sebentar saja dari dunia.

Namun mungkin memang salahku sendiri. Aku terlalu pandai terlihat baik-baik saja. Setelah makan malam, aku kembali ke kamar dan mengunci pintu pelan. Ruangan itu gelap kecuali cahaya redup dari lampu meja belajar. Aku duduk di lantai sambil memeluk lutut sendiri, mencoba menenangkan napas yang tiba-tiba terasa berat.

Ponselku bergetar pelan.
Pesan dari Sera muncul di layar.
"Udah sampai rumah?"
Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas singkat.
"Udah."
Beberapa detik kemudian, balasan lain muncul.
Sekar.
Kalau kamu mau cerita, aku ada.
Dadaku langsung terasa sesak.

Kalimat sederhana itu seharusnya terasa menenangkan. Namun bagiku, perhatian justru sering kali menakutkan. Karena perhatian berarti kemungkinan untuk diketahui. Dan diketahui berarti membuka kesempatan untuk ditinggalkan. Aku menggigit bibir pelan sambil mengetik sesuatu.

Aku capek.
Jemariku berhenti.
Kursor kecil di layar terus berkedip menunggu keberanian yang tidak kunjung datang.

Aku ingin bercerita. Tentang bagaimana kepalaku tidak pernah benar-benar tenang. Tentang rasa takut yang datang tiba-tiba tanpa alasan jelas. Tentang obat-obatan yang kusimpan seperti rahasia memalukan. Tentang malam-malam panjang ketika aku berharap bisa tidur tanpa mimpi buruk. Aku ingin mengatakan semuanya. Namun bersamaan dengan itu, muncul suara lain di kepalaku.

Bagaimana kalau setelah tahu semuanya, Sera mulai menjauh?
Bagaimana kalau ia mulai memandangku berbeda?
Bagaimana kalau aku terlalu rusak untuk diterima siapa pun?

Tanganku gemetar kecil. Lalu perlahan, aku menghapus kalimat itu satu per satu sampai layar ponselku kembali kosong. Aku mematikan ponsel lalu merebahkan tubuh di lantai kamar. Langit-langit tampak buram karena mataku tidak memakai kacamata. Dunia yang kabur selalu terasa lebih mudah dihadapi.

Keesokan paginya dunia kembali berjalan seperti biasa. Alarm berbunyi, matahari masuk melalui sela tirai. Notifikasi rapat organisasi memenuhi layar ponselku. Aku bangkit perlahan dari tempat tidur, berjalan ke depan cermin, lalu menatap diriku sendiri cukup lama. Wajahku tampak baik-baik saja. Tidak ada yang benar-benar berubah. Aku memasang TWS seperti biasa. Membiarkan musik memenuhi telinga sebelum dunia sempat terlalu berisik. Kacamata tetap kutinggalkan di meja, membiarkan dunia tampak samar dan jauh. Lebih aman begitu. Sesampainya di kampus, orang-orang kembali menyapaku dengan senyum yang sama.

“Sekar!”
“Kar, nanti rapat jangan telat!”
“Kamu keliatan cantik hari ini.”
Aku tertawa kecil dan mengangguk seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa semalam aku hampir tenggelam di dalam kepalaku sendiri.

Di depan gedung sekretariat, Sera berdiri sambil memegang beberapa map. Tatapannya bertemu denganku beberapa detik. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada desakan. Namun untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang benar-benar menyadari bahwa senyumku tidak selalu berarti aku baik-baik saja.

Sera tersenyum kecil. Dan anehnya, kali ini aku tidak merasa terlalu sendirian. Meski begitu, aku tetap berjalan masuk ke dalam gedung dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya, mengenakan wajah yang telah kupelajari bertahun-tahun lamanya. Karena pada akhirnya, aku masih menjadi kaca retak yang terus digunakan.


Posting Komentar

0 Komentar