Diam Seribu Luka
Sebuah Puisi Karya Uswatun Khasanah
Saat kata tak mampu lagi untuk diungkapkan,
maka tangisan yang akan mengambil peran.
Sesak datang membawa teka-teki,
menetap tanpa jejak.
Namun menyisakan lubang
yang tak kunjung rapat.
Dulu, aku merutuk pada cermin,
mencari cacat yang membuatmu pergi.
Bukan cermin yang berdusta,
tapi jiwaku yang lelah menampung luka.
Aku pernah bertanya,
Salahku di bagian mana?
Apakah aku hanya pelengkap sunyimu?
Katamu aku adalah rumah,
Namun saat badai terjadi
Mengapa kau memilih berpindah?
Utuh yang rapuh...
Terlihat utuh,
namun sebenarnya lebih kacau
dari yang terlihat paling kacau.
Pernah yang menuju punah
Retak yang berharap hancur
Selalu ada kata jatuh di setiap cinta
Bukan tentang siapa yang datang atau pergi,
tapi tentang bagaimana aku berdamai
dengan retak yang kian lebar ini.

0 Komentar