Aku Hilang di Lingkaran Pertemanan
Sebuah Cerpen Karya Anggita Putri Damayanti
Pagi yang cerah, saat diriku mulai bangun dan membawa sebuah tas untuk pergi ke sekolah. Lia, itulah sebutanku ketika di sekolah. Aku berteman dengan banyak orang, dan orang-orang menyebutku sebagai orang yang mudah bergaul dan lucu. Sekolahku cukup dramatis, aku sekolah di Internasional School Jakarta, dan sekarang menginjak di bangku kelas 8. Sekolah Internasional, pasti orang akan menganggap bahwa dari segi pendidikan dan pertemanan pasti bagus, ya, umumnya memang seperti itu, tapi berbanding terbalik dengan diriku. Apakah ini hanya sebuah keanehan dalam diriku, atau memang lingkunganku yang salah?
Berlanjut pada lingkaran pertemanan, saat itu, aku berteman dengan 5 teman yang biasa orang sekarang sebut sebagai "circle". Awal kami berkenalan memang terasa baik-baik saja, kami terasa seperti saudara. Saat itu, temanku bernama Aca, Sinta, Rara, Zia, dan Mira. Kami berteman selama lebih dari 1 tahun. Mereka memang memiliki keunikan masing-masing. Aku yang terbiasa memiliki karakteristik sebagai seorang ambivert. Dan di tahun 2019, ketika diriku mulai membentuk sebuah kebiasaan (habits), inilah yang membuatku bisa bertahan. Akan tetapi, sempat di pertengahan tahun, aku mulai merasakan kehancuran dan terasa hilang arah di dalam lingkungan pertemananku.
Diriku memang memiliki teman, tetapi aku terasa hilang arah bersama mereka. Aku terasa seperti terjebak dalam sebuah racun. Saat itu, kucoba untuk membuka lembar demi lembar, namun teman-temanku tidak menyukai itu. Ketika kami berkumpul, hanya celaan dan kejelekan orang lain yang kami bahas. Ini adalah sebuah racun yang merusak pikiranku. Ketika diriku mencoba mengajak berbicara, seringkali dibantah, seolah tidak ada ruang untuk berpendapat. Padahal, aku sudah merencanakan bahwa saat di kelas 2 SMP aku ingin memulai kebiasaan baik dan berkumpul dengan lingkaran pertemanan yang positif, tapi ini menjadi sebuah kontradiksi.
Saat itu, meskipun aku memiliki banyak teman, aku serasa tidak memiliki siapa-siapa—sepi dan hampa. Aku tahu ternyata diriku terjebak di dalam pertemanan yang toksik. Aku takut untuk keluar, takut tidak punya teman, dan takut akan berakhir di-bully. Saat aku masih bergabung dengan circle toksik itu, ketika aku mengerjakan tugas dengan tepat waktu atau melakukan kebiasaan baik, selalu saja ada hujatan. Selalu ada suara, "Kenapa sih harus jadi anak rajin? Ngapain harus membaca buku, kan sudah ada AI, TikTok." Terasa seperti sebuah hal tabu. Saat kucoba mengajak berdiskusi mengenai hal berbobot, terasa tidak penting bagi mereka; namun jika kuajak membicarakan ghibah dan hal-hal buruk, mereka bersemangat. Aneh dan begitu aneh.
Sempat, ketika aku bertahan dan semakin bertahan, justru hal ini membuat pikiranku bermasalah. Saking diriku tertekan dalam hubungan toksik ini, aku mulai mengalami overthinking. Karena setiap melakukan sesuatu, selalu saja ada teman-temanku yang berkomentar. Salah satunya Rara, ketika melihatku membaca buku di kelas, ia berkata, "Dih, sok rajin amat." Kemudian temanku Zia juga berkata, "Sok-sokan ambisius, ngemis perhatian." Saat itu, diriku hanya bisa terdiam. Jujur, aku hanya bisa menuliskan hal tersebut di buku harianku; aku hilang arah saat itu dan merasa bingung. Aku di rumah hanya tinggal bersama nenekku. Ayah dan ibuku berada di luar negeri, dan aku hanya bertemu mereka setahun sekali. Saat itu, aku merasa hampa. Setiap hari di sekolah harus mendengar bully-an dan cemoohan. Aku hampir stres; pernah beberapa hari aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Aku tidak keluar kamar dan hanya terdiam merenung. Nenekku pun ikut khawatir karena aku tidak mau makan sama sekali. Berminggu-minggu sudah aku tidak masuk sekolah, sampai nenekku memanggil psikiater ke rumah.
Nenekku berkata, "Hayo, Lia, semangat lagi untuk ke sekolah. Tidak apa-apa kamu tidak mau menceritakan masalahmu ke nenek, kamu bisa bercerita kepada dokter ya, siapa tahu masalahmu bisa cepat terselesaikan." Awalnya aku tidak ingin bercerita, kemudian perlahan aku pun mulai menceritakan permasalahanku. "Aku sedang berada dalam lingkungan yang penuh racun, Dok. Aku tidak bisa mengeksplorasi diriku. Aku ingin bebas dok, tapi aku tidak bisa dan takut." Kemudian dokter psikiater pun memberikan arahan mengenai permasalahan tersebut selama berbulan-bulan. Yang pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk keluar dan benar-benar melepaskan diri dari lingkungan toksik itu.
Saat itu, aku juga dibantu oleh buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang membuatku semakin kuat. Aku mulai memberanikan diri untuk keluar dan berteman dengan salah satu teman angkatanku yang benar-benar sefrekuensi denganku. Namanya Alin. Kami pun memutuskan untuk berteman baik hingga saat ini. Alin adalah siswi yang baik dan rajin; menurutku, dia berbeda dari yang lain. Dia selalu mendukung kegiatan-kegiatan positifku, tidak pernah menghakimi, serta selalu memberikan kritik dan saran saat aku melakukan kesalahan. Kami sama-sama suka membaca buku dan berolahraga. Aku bersyukur bisa menemukan dan berani keluar dari lingkaran pertemanan masa lalu yang penuh racun, yang pada akhirnya bisa membuat kesehatan mentalku lebih baik.
Untuk semua pembaca, jika Anda sedang terjebak dalam pertemanan yang penuh racun atau merasa rendah diri, jangan takut untuk keluar dari pertemanan toksik itu. Karena jika Anda terus berada dalam lingkungan yang toksik dan takut untuk keluar, yang ada hanyalah kehancuran di dalam pikiran Anda dan Anda tidak akan pernah maju. Jika Anda sudah terjebak dan tidak ada pilihan lain, cobalah menetapkan diri untuk mencari lingkungan atau kegiatan yang positif, karena pertemanan menentukan kualitas diri kita. Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang gemar membaca buku, maka Anda pun akan menjadi pembaca yang baik. Sebaliknya, jika Anda hanya suka membicarakan orang lain, maka itulah identitas Anda. Maka dari itu, tinggal pilihan Anda: bagaimana membentuk lingkungan dan memilih pertemanan yang baik demi kesehatan mental Anda, karena pertemanan juga memengaruhi kesehatan mental Anda. Sekian dan terima kasih.
Referensi:
https://www.researchgate.net/.../Kesehatan-Mental.pdf
https://books.google.co.id/.../kesehatan-mental
https://www.cnnindonesia.com/.../self-diagnosis-saat-sakit

0 Komentar