Jalan yang Mengajariku Pulang
Sebuah Puisi Karya Tiaji Ratu M
Aku berangkat
dengan langkah yang belum sepenuhnya yakin, membawa banyak harapan
yang bahkan belum tahu
akan dibawa ke mana.
Di hadapanku, jalan terbentang panjang.
Kadang terang oleh pagi,
kadang temaram menjelang malam.
Ada hari ketika aku berjalan dengan tenang,
ada pula hari ketika langkah terasa berat
hanya untuk sekadar melanjutkan.
Sepanjang perjalanan,
aku bertemu banyak hal.
Ada tawa yang ingin kuingat,
ada perpisahan yang tidak pernah kuinginkan,
juga beberapa luka
yang awalnya ingin kulupakan.
Namun waktu mengajarkanku
bahwa tidak semua luka harus disembunyikan.
Ada luka yang justru membuat kita
lebih mengerti arti bertahan.
Pernah suatu ketika
aku berhenti di persimpangan
dan bertanya pada diri sendiri,
“Apakah jalan ini benar?”
Aku menunggu jawaban,
tetapi yang datang hanya angin
dan sunyi yang panjang.
Akhirnya aku memilih berjalan lagi.
Bukan karena sudah tahu
ke mana tujuan akan membawa,
melainkan karena aku sadar,
terlalu lama diam
tidak akan membuat jalan
menemukan arahnya sendiri.
Dalam perjalanan ini,
aku belajar tentang kehilangan.
Tentang orang-orang yang datang
lalu memilih pergi.
Tentang tempat yang pernah terasa seperti rumah
namun pada akhirnya harus kutinggalkan.
Dulu aku mengira
setiap yang pergi harus dipertahankan.
Sekarang aku tahu,
ada beberapa hal
yang memang hadir hanya untuk menemani
sebagian perjalanan.
Ada yang cukup dikenang,
ada yang cukup direlakan,
dan ada yang harus kutinggalkan
agar langkahku tidak terus tertahan.
Mungkin begitulah cara waktu
perlahan mengajarkan kedewasaan.
Bukan dengan membuat hidup
selalu berjalan sesuai keinginan,
melainkan dengan mengajarkan
bahwa tidak semua hal
harus kita menangkan.
Ada kalanya kita harus mengalah,
menerima, dan mengikhlaskan sesuatu
meski hati belum sepenuhnya siap.
Kini aku masih di sini,
masih menapaki jalan yang sama asingnya,
dengan masa depan yang belum dapat kubaca.
Aku tidak tahu
berapa jauh lagi harus berjalan.
Namun aku tidak lagi terburu-buru
mencari akhir.
Sebab mungkin perjalanan
bukan tentang seberapa cepat kita sampai,
melainkan tentang bagaimana perjalanan itu perlahan mengubah kita.
Tentang bagaimana seorang anak
yang dahulu ingin mengetahui segalanya
akhirnya tumbuh menjadi seseorang
yang belajar menerima
bahwa tidak semua jawaban
harus ditemukan hari ini.
Dan jika suatu hari nanti
aku benar-benar sampai,
aku ingin menoleh sebentar
kepada diriku yang pernah takut berjalan.
Lalu berkata,
“Terima kasih
karena waktu itu
kamu memilih untuk tetap melangkah.”
Mungkin saat itulah aku akan mengerti,
bahwa pulang tidak selalu berarti
menemukan tempat untuk berhenti.
Kadang, pulang adalah ketika
setelah begitu jauh mencari arah,
kita akhirnya mampu menerima
segala yang pernah terjadi,
berdamai dengan apa yang telah berlalu,
dan menjadi dewasa
tanpa kehilangan diri sendiri.

0 Komentar