Jejak yang Tak Sama
Sebuah Puisi Karya Salma
Di semesta yang riuh ini,
Kita mengeja takdir dengan ritme berbeda.
Ada yang telah memeluk fajar di balik bukit,
Ada yang masih memeluk sepi, diterpa rimba yang rintik.
Jangan
ukur kedalaman lautmu
Dengan
dangkalnya tepian orang lain.
Ada
yang diberi sayap untuk terbang cepat,
Ada
yang diberi akar agar kokoh memahat.
Keduanya
tidak sedang berlomba,
Hanya
sedang menuntaskan bentuknya.
Yang
mendahului bukan berarti paling bijak,
Yang
tersisa bukan berarti tak berjejak.
Sebab
tiap jiwa punya musim mekar yang rahasia,
Ditakar
presisi oleh Sang Waktu,
Tanpa pernah tertukar, tanpa pernah terburu.
Maka berjalanlah tanpa membandingkan luka,
Sebab
tujuanmu bukan menjadi peniru keberhasilan orang lain,
Melainkan
menjadi utuh di jalanmu sendiri.

0 Komentar