Jarak yang Menemukan Rumah
Sebuah Puisi Karya Halim
Kita adalah dua perjalanan
yang ditempuh dari tempat berbeda,
dengan waktu yang kadang tak berjalan
pada arah yang sama.
Ada jarak di antara kita,
tetapi barangkali jarak memang
diciptakan
bukan untuk menjauhkan,
melainkan untuk mengajarkan
bagaimana seseorang tetap hadir
meski tak selalu berada di sisi.
Pada malam ketika kita terpisah oleh kota,
aku sering memandang bulan.
Bukan karena aku menganggapnya indah,
tetapi karena ia mengingatkanku kepadamu:
jauh dari pandangan,
namun tetap berada di langit
yang sama denganku.
Sesekali, di antara sunyi yang panjang,
aku membayangkan segelas susu
di atas meja sederhana, hangat,
dan entah mengapa menenangkan.
Mungkin karena ada hal-hal tertentu
yang tak membutuhkan banyak rasa
untuk membuat seseorang merasa pulang.
Begitulah aku mengenalmu:
seperti bulan yang tak dapat kugapai,
namun selalu bisa kutemui dalam
pandangan;
seperti susu yang sederhana,
namun menyisakan hangat
setelah tegukan terakhir.
Kita mungkin belum tahu
ke mana perjalanan ini akan membawa
langkah.
Tetapi selama masih ada cerita
yang ingin kita bagi,
rindu yang tetap menemukan jalan,
dan dua hati yang memilih
untuk tidak berhenti saling mencari,
barangkali jarak hanyalah bagian kecil
dari perjalanan yang sedang kita tulis.
Sebab pada akhirnya,
yang membuat sebuah perjalanan berarti
bukan seberapa jauh seseorang pergi,
melainkan siapa yang tetap ingin ia
temui
ketika perjalanan itu selesai.

0 Komentar