6/recent/ticker-posts

Sebuah Lelucon di Ujung Hari



Sebuah Lelucon di Ujung Hari
Sebuah Cerpen Karya Asih Rizki Masruroh

Tawa itu meledak lagi, kali ini lebih keras hingga mengalahkan dengung mesin pembuat kopi dan denting cangkir di sudut kafe. Dua teman di hadapan Rai sampai harus memegangi perut mereka, menyeka air mata yang merembes keluar dari sudut mata karena tidak kuat menahan geli.

"Sumpah, Rai, berhenti! Perutku sakit banget," Dira tersengal-sengal. Wajahnya memerah sambil memukul pelan meja kayu di depan mereka.

Rai hanya tersenyum lebar, menopang dagu dengan satu tangan sambil mengaduk es tehnya yang mulai mencair. "Aku kan cuma cerita apa adanya. Makanya, minum dulu itu air putihnya, nanti kalian berdua tersedak, aku yang repot harus gotong kalian ke rumah sakit."

Nada suaranya hangat, mengalir tanpa beban. Rai selalu tahu persis cara menempatkan diri kapan harus melontarkan lelucon konyol yang memecah keheningan, kapan harus menyodorkan tisu, dan kapan harus menjadi pendengar yang utuh. Ia adalah pusat gravitasi di meja itu; hangat, terang, dan bercahaya.

Namun, tepat di detik itu, saat tawa teman-temannya masih mengudara dan kehangatan seharusnya memenuhi dadanya, sebuah bisikan dingin melintas di kepala Rai. Bagaimana rasanya kalau semuanya berhenti hari ini? Kalau besok aku tidak perlu bangun lagi?.

Pikiran tentang kematian itu datang tanpa diundang. Ia menyusup santai di tengah momen paling membahagiakannya, sama alaminya dengan seseorang yang mengingat daftar belanjaan di tengah jalan. Rai tidak tersentak. Ia sudah terlalu terbiasa dengan tamu tak diundang ini. Ia hanya berkedip pelan, memperlebar lengkung senyumnya, dan kembali memusatkan perhatian pada cerita Dira tentang tugas kuliah yang menumpuk.

Satu jam kemudian, pertunjukan itu selesai.

Momen perpisahan di area parkir adalah batas akhirnya. Begitu punggung kedua temannya menjauh, menyatu dengan keramaian jalanan sore. Senyum di wajah Rai luruh seolah benang yang menarik otot-otot pipinya baru saja digunting. Wajahnya kembali datar, kosong, dan luar biasa lelah.

Perjalanan kembali ke kamar kos terasa seperti mengarungi genangan lumpur yang tebal. Tanpa penonton, tidak ada lagi alasan untuk menahan beban yang sedari tadi ia seimbangkan di atas kepala. Tekanan finansial keluarga yang mencekik perlahan merayap naik ke dadanya.

Bayangan tagihan yang menunggu, trauma yang tak pernah benar-benar tidur, dan perasaan terasing yang ironisnya selalu paling nyaring saat ia berada di kerumunan, semuanya menabrak Rai secara bersamaan.

Ia mendorong pintu kamarnya. Udara pengap menyambut, bercampur dengan aroma cucian kering yang belum dilipat dan menumpuk di atas kursi plastik. Rai mengunci pintu, "klik".  Dunia luar tertutup rapat. Topengnya terlepas sepenuhnya. Tanpa repot-repot melepas jaket atau meletakkan tas ranselnya dengan benar, Rai menjatuhkan diri ke atas kasur. Tubuhnya seketika terasa terbuat dari timah. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang mulai menguning di bagian sudut karena rembesan air hujan.

Di dalam kepalanya, otak Rai bekerja dengan sangat jernih dan berisik. Ia tahu ia harus mandi, keringat seharian menempel lengket dan membuat kulitnya gatal. Ia tahu ia belum makan malam dan lambungnya samar-samar mulai berdenyut perih. Ia tahu ia harus membuka layar dan menyelesaikan tenggat waktu revisi agar tidak tertinggal jadwal besok pagi. Ia sangat, sangat sadar akan semua itu.

Namun, tubuhnya menolak tunduk pada perintah otaknya. Tangannya tak mau terangkat. Kakinya menolak untuk ditekuk. Ia terpaku, membatu di atas seprai yang berantakan.

"Pemalas, desis sebuah suara di kepalanya, tajam dan menghakimi. Kamu cuma pemalas." 

Itulah label yang selalu ia sematkan pada dirinya sendiri. Orang-orang di luar pintu ini mengenalnya sebagai perempuan yang aktif, teman yang paling peka, seseorang yang hidupnya tampak sangat teratur, dan terkendali. Sungguh sebuah kemunafikan yang sempurna. Kalau saja mereka tahu bahwa untuk sekadar memiringkan badan meraih botol air minum di lantai pun, Rai harus mengumpulkan sisa-sisa tenaga seolah bersiap mengangkat beban puluhan kilo. Ia bukan malas. Ia lumpuh oleh pikirannya sendiri.

Layar ponsel di saku jaketnya tiba-tiba menyala, bergetar pelan menembus kain tebal. Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, Rai memaksa tangannya merogoh saku. Sebuah pesan masuk.

Dira

“Rai, thanks ya buat hari ini! Mood booster banget sumpah. Jangan lupa istirahat lu, jgn begadang terus!”

Rai menatap pendar layar kecil itu selama beberapa detik. Cahayanya menyilaukan mata di tengah kamar yang mulai ditelan temaram senja. Jari- jarinya kemudian bergerak cepat, sebuah refleks pertahanan diri yang sudah terlatih bertahun-tahun.

Rai

“Santai ajaa! Kalian juga istirahat ya, jangan lupa minum vitamin. See you besok!”

Pesan terkirim. Rai meletakkan ponselnya kembali ke sisi bantal, membiarkan layarnya meredup lalu mati sepenuhnya. Kamar itu kembali hening, perlahan menelan suara deru mesin kendaraan dari jalan raya di kejauhan. 

Rai memejamkan mata. Ia membiarkan rasa berat itu menekan dadanya semakin dalam, membiarkan dirinya tenggelam dalam kelumpuhan yang tak kasat mata ini. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada teriakan frustrasi. Hanya seseorang yang terlalu lelah untuk hidup, namun terlalu takut untuk mati, berbaring diam dalam kesunyian yang sangat panjang.


Posting Komentar

0 Komentar