Aksara yang Enggan Lahir
Sebuah Puisi Karya Tiaji Ratu Mamenanggari
Di relung kalbu yang direngkuh kesunyian
aksara menggantung di batas hening.
Bukan kehilangan makna atau bunyi
hanya bimbang pada dunia yang kerap tak berpihak.
Di ambang wicara, lidah kelu membisu
terjerat ragu yang tumbuh perlahan.
Senandika kecil di ruang nurani
bergetar sendu, lalu luruh dalam kesunyian.
Ada makna yang diliputi renjana
mengendap diam di sela rasa
namun gugur sebelum sempat bersemi
tertelan senyap di palung jiwa.
Seperti bayang yang enggan menjelma
ia pudar di antara diam dan cemas
mengalir lirih tanpa arah
lalu lenyap di cakrawala yang samar.
Maka kusimpan dalam diam yang fana
merawat kata yang tak sempat menjelma
sebab tak semua aksara yang bernyawa
ditakdirkan hadir di riuhnya dunia.

0 Komentar