Yang Perlahan Pulang
Oleh Ann (nama panggilan kesukaanku)
Sesak, marah, penuh, riuh, kalut
Menu tetap setiap hari
Tak bisa diubah
Tak bisa dibantah
Sembilan belas tahun
Ia hinggap di tubuhku
Dan sisanya
Masih betah menetap
Aku takut bersuara
Bukan karena akan digorok dunia
Melainkan karena
Akankah ada yang mau mendengar jeritku?
Akankah ada tangan yang terulur?
Akankah ada peluk
Tanpa lebih dulu menghakimi?
Aku kira tidak.....
Pikiran itu menjadi racun
Merambat pelan di dalam dada
Menghapus tekad satu per satu
Membungkam seluruhku
Tanpa kusadari
Aku menyakiti
Aku yang manis di dalam sana
Lalu pada hari itu
Aku memilih menyuarakannya
Apapun konsekuensinya
Yang biasanya hanya berkata “iya”
Hari itu dengan lantang aku berkata “tidak”
Aku pikir akan runtuh segalanya
Ternyata tidak
Dari situ.....
Ada perspektif yang terbuka
Ada nada yang melunak
Ada hatiku yang tak lagi seberat kemarin
Yang selalu kutakuti
Ternyata hanya skenario
Yang kubuat sendiri
Dan sejak itu
Sunyi tak lagi menakutkan
Ia hanya ruang
Tempat keberanian tumbuh pelan-pelan

0 Komentar