Ini bukan tentang suara yang sengaja dibungkam, melainkan sebuah pertahanan diri untuk tetap menjadi anak yang berbakti. Kala itu, aku melihat seorang anak yang senantiasa menceritakan segalanya kepada orang tuanya, mulai dari badut yang ia temui di lampu merah, hingga pertikaiannya dengan teman sekelas. Ia menceritakan hal-hal kecil itu dengan bersemangat, seolah tak pernah kehabisan kata. Bentuk cinta yang selalu ia dapatkan salah satunya adalah diperhatikan, direspon, dan didengar. Sebuah perlakuan sederhana tapi ternyata sulit didapatkan oleh banyak anak.
Setiap malamnya, aku duduk di kursi meja belajarku, menyeduh segelas susu dan membuka sebuah buku biru milikku. Aroma susu vanilla yang hangat dan lampu meja yang redup seolah menenangkan hati yang sedang bergejolak. Aku menulis banyaknya kata yang tak pernah bisa aku keluarkan melalui suara. Tangis dan tawa mengiringi goresan tintaku. Tangan dan pena seolah mengajakku untuk menari di atas lembaran kertas putih. Pertarungan hebat dan menyenangkan hari ini hanya bisa aku pendam sendiri, “hampa.” Seolah dunia tak berminat untuk mendengarnya. Atau mungkinkah, hanya aku yang terbiasa untuk menyimpan semuanya sendiri.
Setiap kata yang aku tulis di buku biru adalah teman, tempat yang tak pernah menghakimiku. Lembar demi lembar menyaksikan bagaimana aku terbentuk menjadi gadis yang lebih kuat. Aku menunduk, seringkali aku tak sanggup melanjutkan rajutan kata itu. Tubuhku melemas dan tangis terkekang, hanya berbisik di antara rahang dan dada. Walaupun gemuruh badai tetap mengguncang, aku tetap memilih menangis dalam sunyi agar dunia tak tahu seberapa lemah diriku.
Ini bukan sekedar tentang suara yang terbungkam. Namun, suara hati yang selalu terkunci dalam ruangan bernama diam, tanpa menuntut siapapun. Setiap pertanyaan selalu menuntut penjelasan, tapi setiap penjelasan tidak pernah datang kepadaku. Setiap pernyataan menentang dan pembelaan diri tak pernah aku sampaikan. Maka, setiap protes yang aku sebarkan melalui kata-kata di buku biru ini menjadi saksi bisu dari keberanian yang hanya aku simpan sendirian.
Malam demi malam, lembar demi lembar menjadi saksi bahwa aku selalu mencoba untuk membangun pondasi batin. Diamku bukan kepasifan, melainkan pertahanan sekaligus sebuah pembelajaran. Setelah malam yang menghilang, akan muncul terbitan fajar yang membawa harapan baru. Aku selalu meyakinkan diri ini bahwa suatu saat nanti, akan ada seseorang yang mendengarku, tanpa aku minta.

0 Komentar