Sebuah Puisi Karya Fathia D.R
Ada sebuah wilayah tak bertuan
Terletak tepat di antara detak jantung dan ujung lidah
Tempat di mana nama-nama kehilangan maknanya
Dan semua penjelasan hanyalah debu yang tersapu angin
Aku berdiri di sana, di ambang batas kata
Melihat ribuan kalimat yang ingin melompat
Namun, patah sayapnya sebelum sempat mengudara
Mereka jatuh, menumpuk menjadi gunung sunyi yang dingin
Bukan karena aku tak punya suara
Hanya saja, ada luka yang terlalu luas untuk dieja
Ada rindu yang terlalu purba untuk dipenjara alfabet
Dan ada amarah yang terlalu pekat untuk sekadar menjadi tinta
Kita seringkali dipaksa bicara
Padahal kebenaran lebih suka bersembunyi dalam jeda
Sebab di antara subjek dan predikat
Seringkali kejujuran justru hilang disekap sekat
Di ambang batas ini, biarkan aku diam
Membiarkan mataku bicara lewat tatap yang lebam
Dan membiarkan nafasku menceritakan segala yang karam
Sebab terkadang, cara terbaik untuk memahami sebuah jiwa
Adalah dengan berhenti memaksanya menjadi aksara

0 Komentar