Di antara riuhnya percakapan dan tawa orang-orang, ada suara yang selalu memilih diam. Namanya Alya. Bukan karena ia tak punya sesuatu untuk dikatakan, tapi karena setiap kata yang hendak keluar selalu tertahan di ujung bibirnya.
Sejak kecil, Alya sudah terbiasa dengan kehilangan. Suatu hari ayahnya pergi, tanpa banyak kata, tanpa janji akan kembali. Yang tertinggal hanya sebuah rumah yang terasa lebih sunyi dari sebelumnya, dan seorang perempuan yang terlalu kecil untuk memahami mengapa seseorang bisa pergi begitu saja.
Sejak saat itu, Alya tak pernah benar-benar punya tempat untuk bercerita. Ketika anak-anak lain pulang sekolah dengan riang dan mengadu tentang hari mereka kepada ayahnya, Alya hanya duduk diam di sudut kamar.
Banyak sekali hal yang ingin ia ceritakan, tentang teman yang membuatnya kesal, tentang nilai ulangan yang membuatnya bangga, tentang rasa sepi yang kadang datang tanpa alasan. Tahun demi tahun berlalu, dan sesuatu dalam diri Alya perlahan berubah.
Ia tumbuh menjadi seseorang yang keras. Kata-katanya sering terdengar tajam, bahkan kadang terasa menyakitkan bagi orang lain. Di sekolah, banyak yang mengenalnya sebagai gadis yang ucapannya “nyelekit”, seolah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya memiliki ujung yang tajam.
Padahal, jauh di dalam dirinya, Alya sendiri sering terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk selalu bersikap seperti itu. Mungkin karena terlalu lama menyimpan perasaan. Mungkin karena terlalu lama tak punya tempat untuk didengar.
Orang-orang hanya melihat sisi kerasnya. Mereka tak pernah tahu bahwa setiap malam, saat semua orang sudah terlelap, Alya sering menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang tak pernah benar-benar tenang.
Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan. Tentang rindu, tentang marah, tentang pertanyaan yang tak pernah mendapatkan jawaban.
Seiring waktu berlalu, Alya semakin beranjak dewasa. Semakin banyak pula orang yang ia kenal. Wajah-wajah baru datang silih berganti dalam hidupnya, teman sekolah, teman organisasi, hingga orang-orang yang sekedar menyapanya dalam percakapan singkat.
Namun semua itu hanya sebatas kenal. Tidak pernah benar-benar menjadi teman. Alya bisa tertawa bersama mereka, duduk di meja yang sama, bahkan berbagi cerita ringan hingga hari-hari yang terasa melelahkan. Tapi selalu ada jarak yang terlihat, sebuah dinding tipis yang tak pernah benar-benar ia runtuhkan.
Hingga suatu hari, Alya menemukan sebuah kalimat yang entah mengapa terasa begitu dekat dengan hidupnya. “Justru aku akan terkejut jika ada orang yang sudah mengenalku, tetapi ia tidak pergi”. Kalimat itu sederhana, namun seperti cermin yang memantulkan isi hantinya sendiri.
Perlahan Alya mulai memahami sesuatu tentang dirinya. Mungkin ia menjadi seperti itu bukan tanpa alasan. Luka-luka masa lalu yang terlalu lama dipendam ternyata masih tinggal di dalam dirinya, diam, namun tak pernah benar-benar hilang.
Luka itu tidak pernah benar-benar disembuhkan. Di hadapan orang lain, ia terlihat tegar. Bahkan terkadang keras, dengan kata-kata yang terdengar tajam. Namun di balik itu semua, Alya adalah seseorang yang selalu merasa tidak enakan. Ia terlalu sering mengalah. Terlalu sering memahami orang lain.
Dan tanpa ia sadari, banyak orang yang menjadi seenaknya terhadap dirinya. Alya tetap diam. Ia jarang membantah, jarang menjelaskan, jarang memperjuangkan perasaannya sendiri. Tapi Ketika malam datang dan kesunyian menyelimuti kamarnya, Alya tak lagi mampu menahan semuanya.
Air matanya jatuh tanpa suara. Alya tiak pernah benar-benar bercerita kepada siapa pun. Bukan karena ia tak ingin didengar, melainkan karena ia selalu merasa bahwa menceritakan kesedihannya kepada orang lain hanya akan menambah beban mereka
Baginya, setiap orang sudah memiliki masalahnya sendiri. Maka, Alya memilih memendam semuanya sendirian.
0 Komentar